Form Login
Pengunjung..






![]() | Today | 46 |
![]() | Yesterday | 70 |
![]() | This week | 215 |
![]() | Last week | 271 |
![]() | This month | 384 |
![]() | Last month | 1761 |
![]() | All days | 14246 |
Your IP: 38.107.191.89
,
Today: Sep 08, 2010
Poling....
Online
We have 2 guests online| SMK, Mencetak Tenaga Kerja Kompetitif |
|
(Meningkatkan mutu lulusan SMK melalui Sertifikasi)
SMK merupakan lembaga pendidikan formal yang diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung antara tenaga kerja (siswa/i) dengan dunia kerja. Meskipun proses belajar mengajar di SMK tidak berbeda jauh dengan SMA, akan tetapi proses pembelajaran di SMK lebih dititikberatkan pada penerapan teori-teori yang telah diberikan melalui kegiatan praktikum.
Dalam hal ini, pemerintah mendukung keberadaan SMK dengan mengadakan fasilitas yang lengkap dan memadai untuk meningkatkan minat belajar siswa-siswi. Selain itu, banyaknya praktik yang diberikan, membekali siswa dengan keterampilan yang sesuai tuntutan dunia kerja/ industri. Dengan demikian, setelah lulus dari SMK, mereka siap memasuki dunia kerja.
Saat ini jumlah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan ) yang tersebar di DKI Jakarta sekitar 588. Jumlah yang terbilang sedikit mengingat peranannya dalam mengatasi krisis global, terutama dalam mendapatkan dan menciptakan lapangan pekerjaan, yang tidak kecil. Menurut Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, perbandingan ideal antara SMA dan SMK adalah 40:60. Beliau juga menjelaskan bahwa tidak semua lulusan SMA melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya dihadapkan pada pilihan untuk bekerja dan ikut memperebutkan kesempatan kerja yang semestinya
Menurut data dari Direktorat Pembinaan SMK yang tercantum dalam buku Reposisi Pendidikan Kejuruan Menjelang 2020, disebutkan bahwa tingkat pengangguran lulusan SMA mencapai 16%, sementara dari SMK sendiri mencapai 12%. Menyikapi kondisi ini, Bapak Fauzi Bowo mengatakan rendahnya angka pengangguran lulusan SMA merupakan ironi. Lulusan SMA tidaklah sama dengan lulusan SMK karena keterampilan praktis yang dimiliki lulusan SMA tidak seperti lulusan SMK. Lulusan SMK memang dipersiapkan untuk bekerja karena telah dibekali dengan kompetensi. Oleh karena itu, pengembangan SMK ke depan harus lebih fokus kepada program-program peningkatan kompetensi kelulusan yang lebih mampu menjawab tantangan maupun tuntutan dunia kerja.
Adanya tuntutan-tuntutan seperti itulah maka SMK harus berkembang lebih baik di masa mendatang, karena SMK diharapkan mampu memunculkan pemuda-pemudi yang siap bekerja. Untuk memaksimalkan peranan SMK, pemerintah menyusun program SERTIFIKASI. Sertifikasi merupakan program yang memberikan pendidikan dan latihan pada siswa untuk memperdalam keterampilannya sesuai dengan bidang yang diminati. Bagi siswa-siswi SMK yang ingin mengikuti sertifikasi untuk mendapatkan sertifikat, mereka harus mengikuti beberapa ketentuan seperti me ngikuti pelatihan, praktik dan seleksi. Apabila lolos dalam seleksi tersebut, mereka akan mendapatkan sertifikat yang akan membantu mereka mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan bayaran yang sesuai. Bahkan dengan sertifikat tersebut, calon tenaga kerja (siswa-siswi yang telah lulus) dapat memperoleh penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya.
Manfaat lain dari sertifikasi ini adalah adanya kemungkinan untuk disalurkan ke luar negeri, dan mendapatkan modal dari bank mikro untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri. Bagaimanapun lulusan SMK selain mampu bersaing di dunia kerja, diharapkan pula mereka mampu menciptakan peluang kerja, setidaknya bagi diri mereka sendiri. Dalam hal ini, dukungan pemerintah dalam meningkatkan mutu lulusan SMK melalui program sertifikasi, haruslah kita sambut dengan baik karena manfaatnya yang sangat besar. Mengingat banyaknya siswa-siswi SMK yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kurang mampu secara ekonomi, maka untuk mencegah atau mengurangi jumlah siswa/i putus sekolah, Pemerintah DKI Jakarta melalui Sudin Dikmen memberikan bantuan berupa Beasiswa Rawan Putus Sekolah (BRPS) dan Beasiswa Jakarta yang diberikan oleh Yayasan Beasiswa Jakarta.
Sejauh ini pemberian bantuan tersebut sangat efektif membantu siswa-siswi yang memiliki semangat belajar tinggi namun terganjal oleh masalah ekonomi keluarga. Fauzi Bowo juga menegaskan jika pemberian beasiswa dilakukan seselektif mungkin, karena hanya disalurkan kepada mereka yang dinilai berhak menerimanya, namun tidak semua SMK mampu menghasilkan tenaga kerja siap pakai. Ini erat kaitannya dengan kualitas SMK itu sendiri. Bagaimana pun, kriteria SMK yang baik adalah SMK yang lulusannya segera bekerja, baik diserap oleh industri maupun yang menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri dengan berwirausaha.
Meskipun kesuksesan yang akan diraih oleh lulusan SMK turut dipengaruhi oleh ki-nerja guru dalam mengajar dan semangat belajar siswa/i, namun faktor penentu yang utama adalah kemampuan mereka untuk berdiri sendiri dengan tegak dan keinginan untuk membuka horison cakrawala dalam berpikir kedepan, mempersiapkan diri untuk terjun ke dunia kerja yang terampil, disiplin dan mandiri. Keoptimisan pemerintah tercermin dari ucapan Bapak Fauzi Bowo, ”Saya yakin pada suatu masa nanti akan kita dapati bahwa masyarakat tidak ragu lagi mempercayakan putra-putrinya untuk menempuh pendidikan dijenjang SMK”. (Bayu, Mulyani, Dian PS) |










